|

Edy Rahmayadi dan Mahyeldi, Bersaing dalam Meraih Prestasi

Gubsu Edy Rahmayadi dan istri foto bersama dengan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah dan istri, usai santap bersama di Kota Padang, beberapa waktu lalu. Foto Ist
Padang | Bersaing dalam menggapai prestasi. Setidaknya hal itu terlihat dari kekompakan dua gubernur, Edy Rahmayadi (Sumatera Utara) dan Mahyeldi Ansharullah (Sumatera Barat), saat hadir dalam pembukaan Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVI di Kota Padang, Sabtu (10/06/2023). Bersama sejumlah kepala daerah dan tokoh pertanian, keduanya menerima penghargaan atas dedikasinya membangun daerah. 

Keakraban kedua kepala daerah tersebut tampak jauh sebelum acara dimulai. Jalinan kerja sama, khususnya untuk komoditas pertanian, sudah dilakukan antar kedua provinsi, sebelum Penas dibuka secara resmi Menko Perekonomian, Airlangga Hartanto, melalui teleconference dari Jakarta. Begitu juga saat acara pembukaan Penas XVI, duduk di jajaran terdepan Gubernur Sumbar, Mahyeldi, disusul Edy Rahmayadi (Sumut), Al Haris (Jambi), Herman Deru (Sumatera Selatan), Isran Nur (Kalimantan Timur), Ridwan Kamil (Jawa Barat), Sahbirin Noor (Kalimantan Selatan), Andi Sudirman Sulaiman (Sulawesi Selatan), Ali Mazi (Sulawesi Tenggara) dan Murad Ismail (Maluku). 

Dalam ajang Penas XVI di Padang, keduanya juga masuk dalam daftar penerima penghargaan bersama 59 gubernur, wali kota/bupati dan tokoh pertanian se Indonesia. Gubsu Edy Rahmayadi menerima Satyalencana Wira Karya (penghargaan untuk warga atau pejabat yang telah mencurahkan darma bakti yang besar kepada negara dan bangsa, khususnya ketahanan pangan, baik pertanian maupun perikanan, sehingga dapat menjadi teladan bagi orang lain, red), sedangkan Mahyeldi mendapatkan Satyalencana Pembangunan (tanda kehormatan untuk warga atau pejabat yang dinilai sukses membangun daerahnya, baik secara umum maupun bidang tertentu, red).

“Pertanian di Sumatera Utara memang menjadi prioritas dari visi Gubernur karena faktor tanah yang subur menjadi potensi kuat dan didukung dengan perencanaan dari pemerintah, sekaligus mendorong kemajuan dan digitalisasi menghadapi globalisasi serta menyejahterakan,” papar Gubsu Edy usai menerima penghargaan.

Ia mengimbau para bupati/wali kota di jajaran Provinsi Sumut untuk terus memajukan sektor pertanian dan perikanan, dalam upaya menjaga ketahanan pangan daerah.

“Kita akan memberikan dukungan terhadap potensi yang ada agar berkembang menjadi lebih baik, khususnya pangan,” tegasnya.

Gubsu Edy mengingatkan pentingnya menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara maksimal dan tepat guna, baik Pemerintah Provinsi (Pemprov) maupun pemerintah kabupaten/kota (pemkab/pemko). Apalagi, Sumut memiliki lahan pertanian yang tergolong luas, sehingga prioritas untuk menjadi lumbung padi bukan sekadar janji manis.

“Kepada Bupati dan Wali kota, kami selalu memberikan poin penting dimana menerangkan kondisi dan apa saja yang menjadi kebutuhan setiap daerah terhadap hasil bumi (pangan, red) dari 33 kabupaten/kota. Itu merupakan standar langkah untuk berbuat lebih baik ke depan,” sebutnya.

Sementara, Kepala Dinas Ketapang TPH Sumut, H Rajali, menyatakan, penghargaan yang diterima Gubsu Edy sangat tepat karena dedikasinya sangat luar biasa untuk memajukan sektor pertanian, khususnya dalam menjadikan Sumut sebagai lumbung ketahanan pangan.

“Program Kawasan Pertanian Terpadu dan lainnya yang telah berjalan selama ini sangat efektif dalam mengendalikan inflasi daerah,” tegasnya.

Setali tiga uang dengan koleganya ini, sederet prestasi juga telah ditorehkan Gubernur Sumbar, Mahyeldi. Menyandang gelar Datuak Marajo, mubaligh yang juga politisi dari Partai Keadilan Sejahtera ini telah mengoleksi banyak penghargaan. Simak saja saat dirinya menjabat Wali Kota Padang selama dua periode, penghargaan Government Award di ajang Sindo Weekly diraihnya pada 12 April 2016 karena dinilai berhasil menata kota dalam waktu terbilang cepat. Konsentrasi penataan yang dilakukan selama kepemimpinan Mahyeldi meliputi Pantai Padang, pembebasan lahan jalur By Pass, dan Pasar Raya Padang. Menariknya, penertiban berlangsung tanpa kericuhan, bahkan warga ikut membongkar sendiri bangunan mereka. 

Dari pemerintah pusat, Mahyeldi mendapat tanda kehormatan Satya Lencana Pembangunan dalam peringatan Hari Koperasi pada 12 Juli 2015 karena berhasil dalam mengurangi angka pengangguran melalui sejumlah program di bidang koperasi yang akan dan sedang diterapkan. Tidak hanya itu, dalam ajang Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2015 pada 11 Desember 2015, Mahyeldi menerima penghargaan dari Kementerian Agama atas kepedulian terhadap pengembangan pendidikan Islam di daerahnya melalui kebijakan dan program kerja, ditandai dengan dukungan dana dan aktivitas keagamaan berjalan semarak. 

Pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan RI juga menganugerahi Mahlyedi penghargaan Adibakti Mina Bahari (AMB) atas kepedulian keberlangsungan sektor kelautan dan perikanan, serta pada 20 Desember 2018,  menerima Piagam Tanda Kehormatan Satyalancana Kebaktian Sosial (SLKS) dari Presiden Republik Indonesia yang diserahkan Menteri Sosial RI, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Tak bisa dipungkiri, negeri ini sangat membutuhkan pemimpin daerah yang memiliki dedikasi tinggi untuk meningkatkan perekonomian masyarakatnya melalui pemanfaatan sumber daya alam setempat. Wilayah agraris seperti yang dimiliki Sumut, Sumbar dan daerah lainnya membutuhkan pemimpin dengan memasukkan  pembangunan pertanian sebagai salah satu skala prioritas demi mewujudkan kemakmuran masyarakatnya.

Layak dicerna pernyataan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, saat hadir di Penas XVI Padang.

“Pertanian yang hebat karena ada pemerintah daerah yang hebat. Kalau pertanian kokoh, maka kokoh bangsa Indonesia. Ini momentum untuk melahirkan konsepsi pertanian yang lebih baik di seluruh Indonesia,” tandasnya. Fey

Komentar

Berita Terkini