![]() |
| Rospita Gusman Sinaga berbincang dengan pihak PT Sari Tani Pemuka, beberapa waktu lalu. Foto Ist |
Rospita Gusman Sinaga, istri Wakil Bupati Simalungun, datang bersama Erni Frida Simanjuntak. Tujuannya satu, menjajaki kerja sama antara UMKM Masyarakat Agri Usaha Daerah atau MARSADA dengan perusahaan besar. Tempat yang dipilih bukan sembarangan. PT Sari Tani Pemuka merupakan bagian dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, perusahaan yang selama ini dikenal dekat dengan rantai pasok pertanian dan peternakan.
Dalam diskusi bersama manajemen, Rospita menekankan satu pesan. UMKM jangan hanya bertahan.
“UMKM maju, negara hebat. Daerah harus bangkit,” ujarnya.
Menurutnya, naik kelas tidak cukup hanya dengan semangat. Pelaku usaha butuh tiga hal, yakni dukungan modal, jaringan pemasaran yang luas, dan pemanfaatan teknologi agar produk lokal bisa bersaing.
Ia melihat penguatan UMKM sebagai pondasi ekonomi kerakyatan. Jika usaha kecil hidup, perputaran uang di pasar tradisional ikut berputar. Lapangan kerja terbuka. Anak muda tidak perlu jauh-jauh merantau untuk mencari peluang.
“Ketika UMKM berkembang, masyarakat punya lebih banyak ruang untuk berusaha di tanahnya sendiri,” katanya.
![]() |
| Pihak PT Sari Tani Pemuka foto bersama dengan rombongan yang dipimpin Rospita Gusman Sinaga untuk mendorong produk UMKM Kabupaten Simalungun 'naik kelas', beberapa waktu lalu. Foto Ist |
Bagi Rospita, sinergi semacam ini penting agar pelaku usaha lokal tidak berjalan di tempat. Kolaborasi dengan perusahaan besar diharapkan membuka pintu yang selama ini tertutup: permodalan, pembinaan, dan pasar.
Langkah ini juga sejalan dengan arah pembangunan nasional di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ekonomi kerakyatan sebagai prioritas.
Di akhir pertemuan, harapan yang mengemuka sederhana. UMKM MARSADA dan pelaku usaha lain di Simalungun mendapat ruang yang lebih luas untuk tumbuh, lalu memberi dampak nyata pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Tidak ada janji muluk. Yang ada adalah meja diskusi yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Jika sinergi ini berjalan, maka “naik kelas” bukan lagi sekadar slogan. Ia bisa menjadi cerita nyata dari warung ke pabrik, dari desa ke pasar yang lebih besar. Fey/Ril

